Manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi, jasmani yang bersifat materi dan rohani yang bersifat immaterial. Jasmani memiliki kebutuhan makanan atau minuman guna tetap hidup dan berkembang. Begitu juga rohani agar tetap sehat harus terhindar dari berbagai penyakit. Layaknya jasmani, rohani yang sakit pun butuh seorang dokter rohani. Nabi kita Muhammad Saw adalah sebagai dokter rohani teladan bagi seluruh dokter rohani di dunia ini sepanjang masa.

Imam Ali kw, sahabat terdekat Nabi dan sekaligus menantu beliau memperkenalkan bagaimana beliau sebagai dokter rohani itu sebagai berikut: “Nabi adalah ibarat tabib yang berkelana yang telah menyiapkan obat-obatannya dan memanaskan peralatannya. Beliau menggunakannya bilamana timbul keperluan untuk menyembuhkan hati yang buta, telinga yang tuli, dan lidah yang kelu. Beliau menelusuri dengan obatnya tempat-tempat kelalaian dan tempat-tempat kebingungan”.
(Khotbah 107 Nahjul Balaghah Imam Ali bin Thalin as).
Mari kita coba menyelami dan merenungi hal-hal penting yang terkandung dalam deskripsi Imam Ali kw tersebut.
Ada beberapa poin yang dapat dipetik dari penyifatan Imam Ali as terhadap Rasulullah Saw:
1. Para dokter ilahi tidak hanya menerangkan cara untuk menghindari penyakit namun membawa obat untuk mengobati setiap orang yang sakit dan membutuhkannya.
Para nabi dan washi yang mulia tidak hanya memiliki ilmu dan bertugas untuk mengabarkan kepada kita (umat) cara dan langkah-langkah untuk menghindari berbagai penyakit jiwa dan otak, namun juga memikul tanggungjawab untuk mengobati mereka yang telah terjangkit penyakit tersebut. Artinya para Nabi itu bukanlah sekadar duta-duta Allah yang hanya bertugas untuk menerangkan dan mengajarkan kepada manusia berbagai persoalan yang berhubungan dengan akidah dan hukum yang dapat diterima oleh setiap orang yang berada pada kondisi normal dan dapat menjalankan kehidupan yang “logis”. Namun mereka dengan penuh ketulusan juga melakukan pengobatan dan berbagai upaya yang dapat menyembuhkan para pasien yang sedang sakit dan menderita ketidakseimbangan di dalam diri mereka. Semua itu dimulai dari hal yang kecil dan sederhana sampai pada usaha maksimal, yaitu dengan menempelkan besi panas padanya, yang di zaman itu merupakan cara pengobatan terakhir.
2. Para dokter ilahi itu mencari orang yang sedang sakit dan membutuhkannya tidak berpangku tangan dan menunggu orang sakit datang kepadanya.
Banyak para penyembah diri dan pendamba kesenangan pribadi yang menamakan dirinya sebagai dokter ilahi mengatakan: “Kami laksana ka’bah siapa yang membutuhkan kami, maka harus mendatangi kami dan kami tidak memiliki kewajiban untuk mendatangi mereka” padahal banyak di antara manusia yang sakit –baik jasmani lebih-lebih rohani- yang tidak mendatangi dokter karena mereka tidak merasa, bahwa dirinya sedang sakit dan yang demikian itu adalah penyakit yang terparah, dimana seseorang yang sedang sakit namun tidak memiliki kesadaran atas hal itu. Di sini ada sedikit perbedaan antara penyakit jasmani dan rohani, dimana penyakit jasmani yang tidak disadari oleh penyandangnya ada kalanya tidak menyebabkannya lebih parah, karena ia secara psikologis merasa tenang dan penyakitnya tidak bertambah parah bahkan bisa jadi akan sembuh dengan ketenangannya tersebut, namun penyakit rohani tidak demikian. Ia laksana sebuah kotoran yang semakin penyandangnya tidak memberikan perhatian kepadanya, maka ia akan semakin lama semakin menebal dan mengeras, sebab di dalam diri setiap kita selalu berlangsung konflik dan pertarungan antara keberlangsungan ketidakpedulian akan penyakit rohani dengan ajakan dan motivasi yang kuat untuk sadar dan mengakhiri ketidakpedulian tersebut. Dan hasilnya adalah lama-kelamaan hati dan jiwa penyandangnya akan menjadi lebih keras dari batu, seperti firman Allah Swt:
“Kemudian hati kalian menjadi keras laksana batu atau lebih keras darinya”. (QS Al Baqarah 74).
3. Beberapa penyakit dasar (utama) yang banyak ditangani oleh para dokter ilahi Penyakit rohani yang merupakan akibat dari dosa dan maksiat kepada Allah terbagi menjadi dua bagian:
a.Penyakit-penyakit dasar yang merupakan induk dari berbagai penyakit rohani lainnya.
b.Penyakit-penyakit yang merupakan cabang dan akibat dari penyakit dasar tersebut.
Amirul mukminin as di dalam hal ini menerangkan tentang berbagai penyakit dasar yang akan menjadi sebab munculnya berbagai penyakit rohani lainnya, yaitu sbb:
1. Buta hati yang akan mengakibatkan telinga menjadi tuli dan lidah menjadi bisu. Penyakit ini benar-benar induk dari berbagai penyakit rohani yang menimpa banyak manusia dengan berbagai tingkatannya. Sungguh suatu hal yang patut disesalkan dan sangat mengkhawatirkan, dimana pemegang kendali dan pengatur diri telah rusak dan terjangkiti dengan penyakit tersebut. Maka semakin ia mendapatkan tambahan wawasan dan ilmu, maka semakin ia bertambah kebutaannya dan tidak bertambah apapun selain kegelapan di atas kegelapan. Diri-diri yang telah terpolusi tersebut tidak akan bertambah apapun selain keakuan dan egonya yang mana dengan penuh keterusterangan ia menarik setiap orang untuk menjadi budak dan pemuas dirinya. Tidak ada kehidupan, kemuliaan, manfaat, kenikmatan, keinginan dan kehendak melainkan kehidupannya, kemuliaannya, manfaatnya, kenikmatannya, keinginannya dan kehendaknya. Jika seseorang telah terjangkiti penyakit tersebut, maka ia akan melahirkan berbagai penyakit lain dan pada saat yang sama tidak akan berpengaruh berbagai upaya dan penerangan seberapapun terangnya cahaya yang akan menyinarinya. Hal itu laksana seorang buta yang tidak akan dapat berpengaruh baginya cahaya sekuat matahari sekalipun.
2.Penyakit lalai. Penyakit ini juga penyakit yang berbahaya dan merupakan induk berbagai penyakit. Lalai tidak sama dengan ketidaktahuan, karena lalai didahului dengan pengetahuan atau minimalnya adanya potensi untuk mengetahui, sedangkan ketidaktahuan adalah ketika seseorang memang tidak mendapatkan jalan untuk dapat memperoleh pengetahuan. Yang biasa disebut dengan istilah “Qâshir”. Oleh karena itu mereka yang memiliki potensi untuk mendapatkan pengetahuan dan ada jalan untuk meraihnya namun ia tidak melakukannya tidak disebut dengan orang yang tidak tahu, ia disebut sebagai orang yang lalai dan acuh tak acuh yang akhirnya melupakannya. Ini adalah sebuah kegelapan dan bencana yang sulit untuk disembuhkan dan akan melahirkan berbagai penyakit lainnya.
3.Penyakit bingung. Yang dimaksud dengan bingung disini adalah sikap ragu untuk melangkah dan memilih jalan lurus yang akan mengantarkannya kepada tujuan yang semestinya sehingga ia akhirnya meninggalkan jalan tersebut. Penyakit ini adalah penyakit yang paling tidak enak dan paling merusak, dimana dapat menyesatkan manusia dan menyengsarakannya. Semakin seseorang menutup matanya dari pancaran sinar ilahi di alam ini, maka semakin ganaslah penyakit ini menggerogoti dirinya.
Dan akhirnya Amirul mukminin menutup sabdanya dengan mengatakan: “Sungguh mereka laksana binatang ternak dan batu-batu yang keras”.

